Dari Jepang, Inggris, hingga Norwegia: Ikhtiar Menjemput Panggilan Berhaji

Perjalanan mengikhtiarkan haji sungguh mengajarkan saya

Bahwa hasil akhir sejatinya karena Allah yang mudahkan

Tapi iman mengajarkan kita untuk selalu yakin tak ada ikhtiar yang sia-sia


Saya bermimpi ingin haji selagi muda sejak SMA

Ketika dapat beasiswa S1 di LN, keinginan itu menguat

"Kalau bisa, selagi masih di sini aku ingin haji karena tidak perlu antre"


Lalu saya giat kerja part-time

bahkan sudah dapat beasiswa living cost bulanan yg lebih dari cukup pun, 

sy tetap ambil part-time supaya masih bisa menabung untuk haji. 

Saya tulis besar2 biaya haji dari Jepang saat itu di meja belajar. 

Hingga suatu saat di th terakhir uang saya cukup, biro memberi info

"Aturan saat ini wanita di bawah 40 th harus dengan mahram"


Setelah itu saya lulus kuliah dengan tambahan tekad,

Setelah ini harus cari beasiswa studi lanjut lagi dan cari suami yg sama2 memprioritaskan haji selagi muda :P


Kemudian saya bekerja sambil apply2 beasiswa S2

Dalam periode bekerja itu ibu saya mengingatkan, sebagian uang yg sudah ada lgsg saja dimasukkan ke tabungan haji di Indonesia "supaya terjaga niatmu dan tidak tergoda untuk memakainya."

Meski waktu itu diinfo antrian sudah 17 th, tetap saya daftar.


Alhamdulillah beberapa th kmudian sy diterima S2 dan beasiswanya, dan beberapa bulan kemudian menikah sebelum berangkat.

Pikir saya, "Alhmdulillaaah kelihatan hilalnya nih realisasi keinginan haji".

Ternyata, Allah berkehendak saya hamil saat berangkat S2. 

Kami juga harus hidup irit di London dgn beasiswa yg sejatinya untuk living cost single :D

Akhirnya, masa haji terlewati dgn sy sibuk punya baby & plus tabungan blm cukup unt berangkat berdua dgn suami. 


Setelah sy lulus S2, saya bilang ke suami

"Ayo gantian ayah yg S2, kita cari beasiswa LN siapa tahu kita bisa haji!"

Alhmd suami dapat S2 di Jepang, dan saya bisa menyusul dengan anak yg saat itu usia 2,5 th. 

Beasiswa juga masih mepet, tapi alhmd kami bisa saving dgn sambilan pekerjaan remote di Indonesia

plus part-time kerja2 kasar spt jadi cleaning service hotel & waitress di resto. 


Di th akhir sblm wisuda th 2022, kami hub biro haji Jepang. 

Sudah setor identitas dan mulai lengkapi form.

Hingga 1 bulan sblm masa haji, biro memberikan update:

"Maaf dengan situasi haji baru buka pertama kali unt kuota dari LN pasca covid, Jepang memutuskan blm bisa memberi visa haji th ini"

Ya, th itu tidak ada rombongan haji dari Jepang. 

Saya dan suami saling berbisik kembali, 

"Gpp, mari kita sama2 cari beasiswa S3 di LN. Siapapun yg dapat duluan, kita brgkt sama2"


Singkat cerita alhmd saya dapat S3 di Norway dgn skema kerja. 

Masih dgn semangat yg sama, kami brgkt. 

Namun untuk brgkt dan settlement di awal cukup memakan tabungan. 

"Gpp, nanti di Norway kita hemat2 dan nabung lagi!" kesepakatan kami.

Th pertama, kami jajaki info2 pendaftaran haji. 

Hitung2 cicil belajar caranya, meski uang blm cukup. 


Setengah th berjalan, tiba2 kami dapat rumah tua dgn rent fee sangat murah. 

Kalau dihitung2, spare saving kami bisa jadi lebih luang. 

Pindahlah kami ke rumah tsb. 


Sambil menabung, kami rajin explore info2 pendaftaran info haji.

Join grup FB, ikut webinar2 dari provider UK, US, negara2 lain, tanya teman yg brgkt dr UK th sblmnya, dll.  

Hingga pada masanya purchasing package, setelah begadang jabanin antrean masuk sistem online,

Alhamdulillah kami DAPAT paket termurah yg memang sesuai budget kami!

Kami sujud syukur waktu itu.

Apalagi waktu itu sudah berpikir, kalau ga dapat paket yg itu, uang kami ga cukup, maka tunda rencana ke th depan. 


Jujur saja waktu purchase itu nekat sekali krn tahu betul setelah payment, tabungan kami habis. 

Betul2 nantinya untuk hidup selama menunggu berangkat & ongkos perbekalan ya mengandalkan gaji selanjutnya saja. 

"Tak apalah, urusan dapur masih bisa disiasati. Kalau Allah takdirkan kita brgkt, pasti Allah cukupkan"

Pikir kami saat itu. 


Tak sampai sebulan setelah pembayaran haji, tiba2 rumah unit atas kami KEBAKARAN! 

Dan kami harus cari rumah lain saat itu juga krn kami terimbas ga boleh tinggal lagi di rumah murah pendukung tabungan haji tsb :D.


"Ya Allah, kirain gaji berjalan cukup unt hemat2 biaya harian aja, ternyata harus spare unt rumah baru"

Kira2 begitulah isi pikiran kami hehehe. 

Tapi kemudian ingat lagi, "Kalau Allah takdirkan kita brgkt, pasti Allah cukupkan, apapun yg terjadi"

Alhmdulillah entah kenapa waktu itu rasanya Allah berikan ketenangan. 

Solusi pun tiba2 datang satu persatu, semua di luar dugaan kami.


Tiba2 teman menawarkan tinggal sementara di rumahnya yg msh kosong.

Tiba2 suami ada demand konsultasi2 online.

Tiba2 dpt rumah baru yg furniturnya dijual oleh penghuni lama dengan sangat murah.

Tiba2 koordinator grant bilang ongkos kami awal berangkat th sblmnya bisa direimburse!

Daaan lain2.


Siapalah saya yg tak bisa mengontrol tiba2 kebakaran terjadi

Tak bisa mengontrol hati teman2, mengontrol hati klien2 suami, mengontrol sistem reimbursement grant yang tiba2 fixed di masa itu, dll. 


Sepanjang perjalanan saya menangis terharu flashback semuanya.

Boleh jadi saya mengira saya memulai ikhtiar sejak 11 th sebelumnya.

Tapi pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan, dengan segala lika-likunya, yang akhirnya membuat saya "sampai" adalah kemudahan-kemudahan dari Allah yang lebih banyak tak terduganya, bukan karena ikhtiar saya. 

Dan segala lika-liku itu? Rupanya membawa hikmah luar biasa pada rasa syukur saya yg tak terhingga.

Coba bila segalanya mudah, mungkin saya tak akan semengharu-biru itu.


Rupanya, tugas kita sejatinya hanya 2 hal,

menjaga niat, dan terus ikhtiar maksimal dengan keyakinan,

Bahwa apapun nanti hasil akhirnya, percaya bahwa tak ada ikhtiar yg luput dari perhitungan-Nya.

Dan bila akhirnya kita "sampai", itu karena Allah yang sampaikan. 


#RefleksiMenujuHariArafah



Comments

Popular posts from this blog

Yokoso Japan (2)

(Cuma) Pisang Godhog

Pendidikan Keluarga: Adab kepada Guru