Posts

Showing posts with the label Daily Life

Pendidikan Keluarga: Adab kepada Guru

Dalam momen Hari Guru, izinkan saya menulis tentang refleksi pendidikan Adab terhadap Guru. Upaya menulis kali ini selain memanfaatkan momen, juga didasari kegelisahan tentang kasus kriminalisasi guru yang terjadi di Indonesia belum lama ini, yang tidak seharusnya terjadi. Pendidikan mengenai adab terhadap guru menurut saya adalah pendidikan yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab PENUH orang tua . Bagaimana tidak? Ketika menyekolahkan anaknya, sudah seharusnya orang tua sadar bahwa ia sedang "meminta bantuan guru" untuk turut serta mendidik anaknya menjadi pribadi yang lebih baik dan beradab. Oleh karena itu, tugas orang tua lah yang "mendidik anaknya" untuk hormat (respect) dan berbuat baik kepada "partner mendidik-nya". Ada beberapa pembiasaan yang dilakukan orang tua saya dalam mendidik Adab terhadap guru pada kami anak-anaknya. 1. Tepat waktu dalam belajar =  menghargai waktu guru Suatu hari saya pernah kurang "cak-cek" (sigap) ketika ...

Underrated Family Quality Time #1. Diskusi a.k.a Ngobrol

Salah satu privilege besar yang saya sadari adalah banyaknya "discussion-time" di keluarga, sejak kecil. Setelah sy refleksikan kembali, budaya diskusi ini dibangun bertahap sejak kecil. Bahan diskusi/ obrolan bisa dibagi jadi 2 kategori:  - Hal2 yg terjadi di internal diri & keluarga - Hal2 yg terjadi di eksternal (contoh: berita apa yg terjadi di luaran sana, hal2 yg diamati di jalanan)  Apa saja tahapan membudayakan diskusi yang dilakukan orang tua saya sejak kecil? Usia TK Dimulai saat saya pra-sekolah, hampir setiap hari ibu saya menanyakan hal detil yang terjadi  keseharian. Contoh: Tadi dapat makan apa? Hari ini main apa sama siapa? Hari ini apa ada temanmu yang sedih di sekolah, gimana ceritanya? Dll.    Tentu saja tidak cuma tanya2 saja tapi bapak ibu saya juga sering membacakan buku cerita, atau kadang cerita juga aktivitas mereka. Hal ini juga penting sebagai stimulus contoh unt anak, bagaimana cara mengomunikasikan pengalaman kesehariannya....

Ramadhan Project 1445H

Image
Ramadhan 3 tahun lalu, saya mengenal kisah keluarga dik Abdurrahman di Australia yang rutin membuat project Ramadhan untuk berbagi. Ibu dik Abdurrahman setiap tahun mengajari anak-anak lelakinya memasak, menjahit (as a survival skill), untuk membuat karya (kue, sajadah lipat, dll) yang bisa dijual, lalu hasil penjualannya dikirim ke Indonesia untuk dibagi-bagikan kepada yang membutuhkan, dalam bentuk parsel Ramadhan. Sejak itu, saya terinspirasi dan bertekad akan berusaha melakukan hal yang sama pada anak-anak saya ketika usianya sudah cukup untuk sabar dalam beraktivitas bersama serta dapat diajak diskusi tentang pemaknaan prosesnya. Mengajaknya berbagi tidak sekedar mencemplungkan uang ke kotak infak, tapi mengajaknya mengalami siklus 'berbuat sesuatu', 'meluangkan waktu dan tenaga', 'berkarya', dan mengikhlaskan hasilnya untuk orang lain.  Akhirnya masa yang saya tunggu-tunggu pun tiba! Di usia 5 tahun ini, Salman selalu tertarik kalau saya upyek mencoba rese...

(Cuma) Pisang Godhog

Image
Malam itu malam yang sederhana. Beberapa tahun yang lalu. Saya ikut menemani bapak ibu yang lagi kangen makan penyetan di warung yang tak seberapa jauh dari rumah. Selesai makan, ketika itu sudah lebih dari pukul 9 seingat saya. Baru akan membuka mobil, kami melihat mbah putri, seorang nenek-nenek berjualan pisang godhog & kacang godhog di dekat tempat kami parkir. Gelap, beliau seorang diri dengan tampah berisi dagangannya. Ibu mendekati beliau, membeli satu tas kresek penuh pisang godhog & kacang godhog. "Bu, sudah malam begini di rumah siapa yang mau makan?", tanya saya. "Membeli sesuatu tidak harus selalu karena kita ingin barangnya kan?" jawab bapak. "Hebat ya simbah tadi, sudah malam masih sabar jualan. Banyak yang lain yang memilih minta-minta" timpal ibu. Maka saya sadar bahwa hakikat membeli bukan hanya tentang menghargai "sesuatu" yang kita inginkan, tetapi tentang menghargai usaha sang penjual, dan belajar berbagi kebahagiaan...

Rezeki itu Allah yang ngatur, Nduk (part 1)

Image
Hidup di negeri orang saya akui susah susah gampang dan asik asik menantang. Alhamdulillah tentu saja saya bersyukur karena diberi Allah sejuta kesempatan belajar satu dan lain hal. Salah satu hal yang saya merasa banyak disadarkan adalah tentang REZEKI Umumnya orang mengidentikkan rezeki dengan uang, atau materi. Sedangkan dari sudut pandang saya sebagai remaja tanggung sok tau dan sok bijak, nampaknya rezeki bisa diartikan lebih luas yakni "kemudahan", dalam hal apapun itu. Nah, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang rezeki. Saya ingin berbagi tentang kemurahan Allah dalam memberi saya selautan "kemudahan" di saat yang tepat, seperti beberapa contoh berikut. 1. Kemudahan : belajar budaya Sejak keputusan saya merantau, saya bertekad ingin hidup mandiri. Di awal semester satu, saya rajin iseng mendaftar part-time job, dari jadi waitress di restaurant sampai jadi assistant di kampus. Hasilnya, nihil, haha. Sebagai mahasiswi culun baru masuk kampus, saya ...

Kami Berani Bermimpi

Assalamu'alaykum :D Lama sekali rasanya tak jumpa dengan blog ini. Terakhir kali saya post tentang Morning Sick, bahkan saya tulis target2 menulis saya. Namun, tak ada post2 yang berkelanjutan setelah itu. Ironis sekali, haha.  Baiklah, saya yang sedang dalam masa liburan ini tiba2 saja kangen menarikan jari2 ini untuk berbagi cerita. yosh paling tidak saya mulai dari hari ini. Siang ini, tiba2 saya teringat perbincangan tadi mlam dengan sahabat saya, Sessy; Sessy : iya jek, jadi kita s1 ini kan masih general, ilmunya masih coba2, nah gimana kalo kita lulus trus s2 dulu, kita gali ilmu yang lebih deep trus stelah lulus kita terjun deh ke masyarakat, jadi ilmu kita udah mantep gitu, bisa lebih bermanfaat Jeki : enggak ses, kita ini kan s1 sekarang masih muda, kita bikin sibuk tuh diri kita dengan kegiatan, kita pupuk idealisme muda. Stelah itu, kita coba terjun ke masyarakat. Disitulah nanti kita akan belajar toleransi antara idealisme kita dan realita. setelah tahu realita...

Morning Sick

Good Morning! It’s been long time I didn’t write anything. Oh my ghost, when will myself get a writing habit??!! I’m a little bit being under pressured since I found my self in an awful laziness… :(( These days I always wake up late, getting myself in dream land again after praying subuh. Then, finally I’ll be truly wake up at around 11. And what I wanna say is, Facebook, You are such an addictive enemy! Yah, I’m really addicted in what they say social network. It was really hard to get free from it as internet connection is being one facility in my dorm. Then in the afternoon, I have saman dance practice for performance in some events. Oh, I’m really being helped of this activity, I can’t imagine if I don't have any practice, What will I do???? I’ll be immersed myself in Cyberworld, I guess. In night, sometimes I have circle activity. If not, I spend few time with my friend to do our holiday study program. I hope this program is worked till the end of holiday. I still have a lot o...

Thanks Sensei :D

It’s getting freezing lately. I just feel crazy when every morning I see a couple decimal number in weather news.  But then I just amazed, wondering how perfect God creates my body, a humankind, can survive in a ranges of temperature. Though, I still need adaptation, man! (just typed this sentence while glancing at my dry-cracked skinned finger) I did test today, though I still have 3 more next week. What I wanna say to my exam is : “thanks, you perfectly warmed my brain in this chill, lol”. I got a nice experience this afternoon. It started when me and my friend decided to waiting for the exam time in BII building, in front of SALC (language center room) and also language teachers office in 1 st floor. So, after we finished accounting class at 14.00, we did our plan. When we got there, I took a wudlu in bathroom since I need to pray dhuhr. Then, as usual, I walked to the place where I used to pray but I found people were practicing nihongo conversation there. Hmm, okay, it means ...

Having Future like them, can I??

In this chilly noon, I declare that I’ll keep up writing and sharing in such a routine once a year week as it was written in my this year resolution. (Oh God, don’t let me getting regret of making this resolution) Anyway, today I wanna share about the last episode of my favorite Indonesian TV program, Kick Andy. This morning- just call it morning though in fact it was already late morning as my clock’s needle had almost pointed on double 1 number- I just woke up and as usual, got my hand touched my laptop spacebar to wake it up from his sleep. I checked my email, and 1 of numbers of my new email (I’d prefer to write it in this way-a numbers of new email- to make myself seems like an important person, than to be honest that it almost all spams, lol) is from my mother. “If you have time, watch Kick Andy,” she said. Okay, I was too lazy to start weekend with either doing my homework or study, so I follow my mom’s suggestion. Then I went to the official website of Metro TV through t...

"I wanna be the best father for my child"

Hiyaa....lama sudah saya tak ngeblog dan nulis. Jadi malu sama kata2nya bang Tere, "menulis itu bukan masalah sempat tidak sempat, luang tak luang, ...." Allah, jangan jadikan jari-jari saya kaku ya...hehe :D Oke, back to the focus. Penasaran baca judul di atas? Bisa tebak siapa yang melontarkan kalimat di atas? Seorang bapak yang sudah punya anak? bukan. Seorang suami yang mempersiapkan diri menjadi seorang bapak? Bukan juga. Bapak saya? Ini lebih ngaco lagi, ehehe (eh, bercanda be, babe mah top dah jadi bapak, hehe)  Well, ini adalah ucapan seorang mahasiswa di kampus saya, a Japanese guy. Anw, saya denger pernyataan ini bukan dari dia secara langsung, tapi denger cerita dari senpai saya. Tapi, meski begitu, rasanya tetep saja ada rasa kagum saya untuk orang ini. Kisah punya kisah, tahun lalu, dia memulai perjalanannya keliling dunia, having World Trip. Satu tahun dia cuti kuliah, menjelajahi dunia by himself. Ketika ditanya, untuk apa kamu melakukan world trip ini...

It was the FIRST time....

Maaf sebelumnya, sebetulnya peristiwa ini terjadi sudah sekitar satu minggu yang lalu, tapi, berhubung saya tidak menyempatkan waktu untuk menulis kecuali menulis tugas esai saya, jadi, gomenne, baru nulis sekarang...hohho Dan parahnya, sekarang saya lupa itu kejadian terjadi tanggal berapa, hehhe, but it’s not really important, seperti kata guru sejarah smp saya dulu, “kalian tidak perlu menghafal tanggal, itu tidak penting, yang penting kalian paham runtutan kisahnya”...jadi...let’s start my story :D Sore itu, selesai kuliah jam 17.45, saya langsung ke student union, berhubung ada kegiatan club. Karena saya sedang tidak haid, maka saya pun ke toilet untuk wudhu, dan ambil rukuh plus sajadah, lalu ke lorong tempat sholat... Sesampainya di lorong yang biasanya, ternyata sudah ada sesosok laki-laki (halah) sedang sholat. Wew, it was the first time saya menemukan barengan sholat di kampus setelah 3 minggu (as jadwal kuliah pada beda2, t4 sholat pun beda2, g kayak di indonesia yang...

Yokoso Japan (2)

Setelah beberapa hari di sini, alhamdulillah I’m really enjoy it. Bertemu dengan teman2 yang punya beragam latar belakang memang mengasyikkan. Ah ya, saya mau sharing pengalaman baru saya dengan jilbab di sini. Di kampus ini, orang2 sudah tidak asing dengan jilbab (a kind of head cover). Mereka biasanya mengidentikkan jilbab dengan orang Indonesia. Ya, karena biasanya emang yang pake jilbab itu orang Indonesia. Saya rasa, setiap taun pasti ada anak Indonesia yang pake jilbab yang masuk sini. #1 Waktu : Evacuating Drill T4 : di jalan pas mau ke t4 evacuating drill Ceritanya, saya baru kenalan sama anak Nepal yang ternyata floormate saya. Terus, dia bilang gini sambil nunjuk jilbab, “Is it from Indonesia?” “No, some muslim woman wear this” “aah, I see. In my country, the muslim woman look strict. They wear like this (body languagenya nutup muka, maksudnya pake niqab). But you know, when they open it, they are so beautiful” “ah, ya ya, some other wear like that” dalam hatiku, “wah, tau g...

Yokoso JAPAN (1)

Wah, alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di japan. Setelah itu menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, dan sampailah kita di lingkungan kampus, di depan asrama. Masuk asrama, disambut oleh senpai, di kasih pengarahan2 di asrama, rulesnya, dst. Habis itu diajak muter kampus, makan di shokudo, kembali lagi ke asrama. Sesi berikutnya adalah muter2 di dalem asrama, dibagi ke beberapa grup kecil. Setelah muter2 asrama, mulailah saya angkut barang2, mencari kamar saya sendiri. Pertama, masuklah saya ke lift di deket loby. Begitu masuk lift, saya heran, kok cuman sampai lantai 4? Padahal temen saya ada yang di lantai 5. Jangan2 salah nih. Tapi saya pencet aja angka 2 (karena di tulisannya saya memang dapetnya kamar di lantai2). O-o, begitu nyampe ternyata tidak ada kamar di lantai2. Yap, saya salah masuk lift. Alhasil saya masuk lift lagi, turun lagi. Setelah itu saya menemukan lift di tempat yang lebih ke timur. Nah, ada pengalaman menarik di lift ini. Lift yang satu ini terletak ...

Yuk, Mari Melamar Panggilan Allah :)

Hmm, lagi-lagi saya mau berbagi cerita nyata. Semoga bermanfaat :). Cerita ini saya dapat dari ibu, tentang seorang temannya. Begini ceritanya : “Allah, panggil hamba ke baitullah....,” lirih seorang anak kelas 5 SD dalam doanya selesai sholat. Lirihan itu terus ia ulang tak henti-henti setiap saat. Ia tahu, mungkin akan banyak temannya yang menertawainya jika mendengar doanya ini. “Masih kecil aja udah mau naik haji, emang udah punya duit?” mungkin saja selorohan2 tak percaya ini ia dengar. Namun ia tak peduli, ia yakin, Allah punya sejuta cara untuk memanggilnya pergi haji suatu saat nanti. Beberapa tahun kemudian anak ini beranjak remaja. Ibunya ingin sekali pergi haji.  Sementara sang ayah telah meninggal sejak lama. Sang ibu bingung siapa yang akan menemaninya naik haji. Maka, beliau memberikan tawaran ini pada anak-anaknya. Ternyata, semua anaknya berhalangan, tidak bisa menemani sang bunda karena berbagai agenda/pekerjaan, kecuali satu orang. Dia adalah anak laki-laki yan...

Lebih dari sekedar sosok Arai wanita

Sore itu, saya mendapat cerita menarik tentang "someone" dari seorang teman. Buat saya, cerita ini suangat menginspirasi, i waww pokoknya. Oya, sebelum saya lanjutkan, perlu diingat bahwa cerita ini sama sekali tidak fiktif, bukan bualan, bukan dongeng, apalagi angan-angan belaka. Dikarenakan saya lupa bertanya pada teman saya siapa nama "someone" tersebut, maka saya pikir saya sebut saja Aisya, hehhe (setidaknya lebih mending lah daripada saya sebut Melati atau Mawar). Tiga tahun yang lalu, Aisya adalah seorang pelajar kelas 3 smp yang sedang menunggu pengumuman kelulusan. Aisya, yang saat itu berdomisili di Pemalang, Jawa Tengah, suaanngggaaattt ingin melanjutkan studinya alias SMAnya di kota pelajar, Yogyakarta. Ia pernah mengungkapkan hal ini pada orang tuanya. Namun, mimpi "kecil"nya ini ditolak mentah-mentah orang tuanya. Orang tuanya ingin ia menempuh SMA cukup di daerahnya saja. Hari penerimaan ijazah pun tiba. Saat orangtuanya hendak berangkat k...