Pages

Thursday, 23 October 2014

(Cuma) Pisang Godhog

Malam itu malam yang sederhana. Beberapa tahun yang lalu. Saya ikut menemani bapak ibu yang lagi kangen makan penyetan di warung yang tak seberapa jauh dari rumah.

Selesai makan, ketika itu sudah lebih dari pukul 9 seingat saya. Baru akan membuka mobil, kami melihat mbah putri, seorang nenek-nenek berjualan pisang godhog & kacang godhog di dekat tempat kami parkir. Gelap, beliau seorang diri dengan tampah berisi dagangannya.

Ibu mendekati beliau, membeli satu tas kresek penuh pisang godhog & kacang godhog.
"Bu, sudah malam begini di rumah siapa yang mau makan?", tanya saya.
"Membeli sesuatu tidak harus selalu karena kita ingin barangnya kan?" jawab bapak.
"Hebat ya simbah tadi, sudah malam masih sabar jualan. Banyak yang lain yang memilih minta-minta" timpal ibu.

Maka saya sadar bahwa hakikat membeli bukan hanya tentang menghargai "sesuatu" yang kita inginkan, tetapi tentang menghargai usaha sang penjual, dan belajar berbagi kebahagiaan.

Terimakasih pak, bu, dan simbah penjual pisang godhog :D

#Beppu, di malam yang dingin kangen pisang godhog

Sunday, 10 March 2013

Rezeki itu Allah yang ngatur, Nduk (part 1)

Hidup di negeri orang saya akui susah susah gampang dan asik asik menantang. Alhamdulillah tentu saja saya bersyukur karena diberi Allah sejuta kesempatan belajar satu dan lain hal. Salah satu hal yang saya merasa banyak disadarkan adalah tentang REZEKI

Umumnya orang mengidentikkan rezeki dengan uang, atau materi. Sedangkan dari sudut pandang saya sebagai remaja tanggung sok tau dan sok bijak, nampaknya rezeki bisa diartikan lebih luas yakni "kemudahan", dalam hal apapun itu.

Nah, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang rezeki. Saya ingin berbagi tentang kemurahan Allah dalam memberi saya selautan "kemudahan" di saat yang tepat, seperti beberapa contoh berikut.

1. Kemudahan : belajar budaya

Sejak keputusan saya merantau, saya bertekad ingin hidup mandiri. Di awal semester satu, saya rajin iseng mendaftar part-time job, dari jadi waitress di restaurant sampai jadi assistant di kampus. Hasilnya, nihil, haha. Sebagai mahasiswi culun baru masuk kampus, saya kalah saing di seleksi assistant. Juga sebagai foreigner dengan kemampuan bhs jepang beginner nekat dan juga alasan lain, saya pun ditolak bekerja di beberapa sektor servis. Akhirnya saya memutuskan di semester pertama, saya lebih fokus ke kesempatan yg bahasa kerennya local exchange mengenalkan budaya (misal ngisi di acara dinner asosiasi tertentu). Sedangkan dalam bahasa kami para mahasiswa : ngamen/nyawer, haha. Ya duit memang nggak seberapa, tapi wawasan budaya negri sendiri bertambah. Satu poin rezeki, added!

2. Kemudahan : segar fisik+ksempatan time management training

Awal Semester dua, dengan ketekunan daftar part time job yang saya pertahankan, saya dan Muti-teman saya, iseng mendaftar lowongan di kampus. Sebagai apa? Petugas peduli lingkungan (baca: cleaning service) haha. Dan tidak disangka-sangka : kami Lolos! Akhirnya!

Pekerjaan ini mengondisikan kami supaya bangun pagi setiap Senin-jumat, siap-siap terjun ke medan perang, dari jam 6-8 kami beraksi mengamankan lingkungan kampus. Kami bergerilya dari satu gedung ke gedung yang lain, kelas ke kelas, membawa persenjataan lengkap(baca:sapu, gombal, serok)
Musuh utama kami adalah kotoran tentu saja. Musuh Di tingkat berikutnya adalah ke-ngantuk-an.

Nah rezeki apa yang saya dapat? Yang jelas kesegaran pagi. Kalau saya nggak terpaksa keluar kamar menyambut angin "sepoi-sepoi" pegunungan di kampus maka hampir bisa dipastikan saya molor males2an di kamar asrama. Juga kesempatan menggerakkan tubuh secara efektif. Tak lupa, sebagai mahasiswa, saya perlu menambahkan bahwa ini juga kesempatan saya belajar time management, terutama untuk bangun dan beranjak dari tempat tidur(tidak perlu saya jelaskan kecenderungan mahasiswa di pagi hari kan?)

Maka, another rezeki points added :Segar+Bugar+manajemen waktu lancar!

3. Kemudahan: ilmu, teman, pengalaman organisasi, kontribusi

Di semester dua ini juga, alhamdulillah saya dinyatakan lolos masuk team System Assistant di kampus.

System Assistant adalah organisasi yang bekerja di bawah Academic office, membantu mahasiswa lain di bidang IT plus mengerjakan project2 yg berkaitan dengan IT praktis.

Maka alhamdulillah saya dapat ilmu tambahan (karena kami suka berbagi ilmu), juga latihan organisasi karena sistem organisasi di SA ini bisa saya katakan cukup baik. Ohya, karena ini juga pekerjaan, maka kami pun dididik untuk disiplin, professional, dan supportive pada mahasiswa lain. So, tidak perlu saya ulang, lagi-lagi banyak rezeki points added!

4. Kemudahan : pengalaman kerja di SD di jepang

Semester 3, saya terpaksa meninggalkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan sekolah karena harus pindah dari asrama ke share-apartment yang letaknya 25 menit dari kampus. Praktis saya tidak bisa ke kampus pagi2 lagi karena tidak ada transportasi yang mendukung di pagi hari (bus paling pagi adalah pukul 7)

Tapi alhamdulillah kebutuhan hidup saya secara materi masih terpenuhi dari hasil kerjaan SA dan beasiswa tambahan.

Semester 3 akhir, ternyata secara materi saya cukup kritis! Beasiswa tambahan saya akan segera berakhir, dan saya tidak lolos di aplikasi2 beasiswa lain pada saat itu. Yang kedua, saya mulai sibuk mengurusi persiapan event Indonesian Week yang berlangsung d semester itu juga, sehingga saya tidak punya begitu banyak waktu untuk mengambil pekerjaan SA (baik shift reguler maupun project)

Saya sempat khawatir, lalu saya iseng daftar kerjaan2 lain di hotel meski saya sempat takut akhirnya saya terlalu sibuk di kampus dan nggak sempat kerja.

Pagi hari itu saya coba telpon pihak hotel, dan ternyata memang saya ditolak, karena belum ada lowongan yang sesuai dengan jadwal saya. Nampaknya Allah belum menghendaki saya sibuk2 kerja di hotel di sela sela waktu sibuk saya mengurusi event. Yaa pasrah plus positie thinking saja lah, pikir saya.

Bukan kebetulan, siang harinya saya tiba-tiba dapat telpon dari mahasiswa indonesia yang sedang S2. Cerita punya cerita, mahasiswa ini, Mbak June namanya, baru saja menyambut kedatangan 2 putrinya di Jepang. Mbak June sedang mengurus kepindahan sekolah untuk putri sulungnya. Nah, putri sulungnya ini akan memulai sekolah di SD dekat rumah, yang tentu saja sehari-harinya menggunakan bahasa Jepang, padahal dia baru saja sampai dan belum bisa bahasa Jepang. Mbak June meminta saya menjadi supporter dan translator untuk putrinya. Sontak saja saya bilang Ya!

Akhirnya saya atur jadwal kuliah, sehingga sepekan 2-3 kali saya bisa menjalani tugas saya di SD pada pagi hari. Dan alhamdulillah, saya bisa melihat langsung sistem SD di jepang dan bagaimana si ibu guru ngajar dan kadang menjelaskan perbedaan budaya anak indonesia pada teman2nya anak Jepang, plus main sama anak2 sd. (lebih detil mengenai hal ini akan saya ceritakan di tulisan lain)

5. Kemudahan : latihan menjadi facilitator untuk anak2, tambahan kosakata bhs jepang

Di semester 4, saya mulai aktif menambah kegiatan menjadi facilitator untuk sebuah NPO (non profit organization) ketika weekend (sekitar 2x dalam sebulan)

NPO ini menyelenggarakan events untuk anak2 jepang, untuk berinteraksi bersama international students, sambil meningkatkan percaya diri dalam berkomunikasi dengan segala macam rupa orang. Secara khusus, dalam event ini kami menggunakan iPad untuk media bermain bersama sambil menambah kosa kata bahasa inggris. Kami juga bercerita kisah lama Jepang yang sudah di translate ke dalam bhs inggris yang dikemas dengan karikatur menarik, juga masih kami buka menggunakan iPad.

Kali ini saya dapat ksempatan enjoy main bersama anak2 kecil yang polos, yang sering malu-malu kucing, haha. Ya, jadi facilitator untuk kelompok kecil anak2 ini susah2 gampang, kadang ada yang pemaluuu banget sampai sampai saya merasa kalau bisa bikin ini anak mengeluarkan suara adalah sebuah prestasi, tapi kadang ada juga yang sibuk berebut iPad, dan lain sebagainya.

Di samping itu, kadang saya dapet kesempatan mengerjakan translate2 kisah2 yang akan dipakai. Eits, jangan berpikir bahasa jepang saya sudah jago, saya mengerjakan ini bermodalkan portal kamus bhs jepang-inggris plus feeling, haha.

Lagi-lagi, paling tidak saya dpat kmudahan dalam latihan jadi facilitator, dan nambah2 kosakata. Poin rezeki lagi ...

6. Kemudahan : melatih tubuh Sehat dan ketangkasan

Akhir semester 4, alhamdulillah saya dapat panggilan beasiswa tambahan lagi. Pekerjaan saya di SD sudah tidak begitu sibuk, karena putri mbak June yang saya bantu sudah mulai terbiasa dengan lingkungan dan teman2nya, plus sudah mulai cas cis cus berbicara dalam bhasa jepang. Event saya pun sudah kelar, maka saya bisa kembali ke ambil pekerjaan SA lagi seperti mengisi shift2 kosong dan terlibat di project2.

Suatu hari setelah ujian semester, kakak kelas saya yang bekerja di hotel (nb: saya sudah pernah ditolak kerja di hotel ini 2kali, haha) bilang sama saya,"Jek, ada lowongan nih di tempatku kerja, orangnya kurang, plus cari yang bisa kerja pas liburan"
Saya yang memang sudah memutuskan tidak pulang ke Indonesia pas liburan, plus dengan jiwa cinta kebersihan selalu di dada (weits) akhirnya menukas,"oke kak, aku mau!" "sip, ntar sore bawa CV ke sini, aku kenalin ke bos ku, besok pagi kerja ya jam 7!"

Besok paginya, dengan kostum yang sesuai (baca: kaos oblong dan training) saya mulai bekerja. Oh ya, saya belum terangkan pekerjaan apa yang saya lakukan. Tidak, meski kostum sama dan sama-sama berkaitan dengan peduli kebersihan, kali ini tugas saya tidak sama seperti saat saya bertugas menjadi petugas peduli lingkungan di tahun pertama dulu. Dengan medan perang di dapur hotel, Kali ini saya bertugas mencuci piring dan merapikannya kembali ke rak piring yang saking besar dan banyaknya lebih mirip rak buku di perpustakaan.

Saya lebih suka bilang bahwa ketika kerja, saya dapat kesempatan olahraga efektif, tubuh bugar dan kuat, dan pelatihan ketangkasan seiring tugas saya gosok2 piring, angkat2 nampan, dan mondar mandir merapikan piring2, mangkok, dan segala printilannya (jangan salah, melatih diri mencegah perpecahan piring itu nggak gampang lo, haha).


Akhirnya, semua ini hanyalah sepersekian dari selautan rezeki yang Allah telah berikan. Mendapat kesempatan mengatur perekonomian pribadi secara mandiri, alhamdulillah memberikan pelajaran bagi saya, memang rezeki itu suka datang dari jalan yang tidak pernah kita duga. Juga, kalau saya yakin insyaAllah cukup maka ya insyaAllah dikasih cukup, hehe. Eh malah dikasih kemudahan2 plus plus lain yang mnurut saya lebih berarti daripada materi. Memang Allah suka menguji keoptimisan dan positive thinking rupanya.

Kalau sudah begini, saya selalu ingat kata2 ibu saya,"Rezeki itu Allah yang atur,Nduk. Yang penting selalu berusaha dan bersyukur"
Siap bu! :D

Friday, 31 August 2012

Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan??

Tiba-tiba saya ngebet banget nulis, ingin share d blog. Ada satu kejadian 2 hari yang lalu yang ingin saya share di sini.

Hari itu, saya bersama teman2 circle (club di kampus) seperti biasa mengadakan kunjungan bulanan ke Rumah Sakit yang bernama Nishibeppu byouin. Ya, inilah salah satu kegiatan rutin kami, mengunjungi pasien yang kurang beruntung secara fisik maupun mental. Pasien2 ini adalah mereka yang hidupnya selalu bergantung pada alat2 rumah sakit, karena tingkat imunitas merka pun dibawah normal. maka tak sedikit dr mreka yang telah menghabiskan lebih dr 10 th hidupnya d rumah sakit ini.

Sedikit bercerita tentang latar belakang kegiatan ini, kami bekerjasama dengan salah satu NPO(yaa gampangannya kelompok kecil gitu) ibu ibu di oita yang mencoba mengusahakan terapi kecil2an melalui musik. Maka kami pun bernyanyi lagu2 riang, memainkan musik bersama mereka, perawat, dan pasien di sana.

Jujur saja, hampir 2 th lalu pertama kali saya diajak ikut kegiatan ini dengan teman saya, maka saya yang tdinya berpikir acara ini adalah mengunjungi pasien biasa, nyaris meneteskan air mata pada saat melihat kondisi yg sebetulnya. Sungguh, saya sangat merasa beruntung, 1000% lebih beruntung dari mereka. Mereka yang sehariharinya duduk di kereta atau tidur di ranjang, tidak mampu bicara seutuhnya, terlihat senang sekali kami kunjungi. Siapapun kami, entah mahasiswa asing, entah berwarna kulit berbeda, mereka tidak peduli. Sangat terasa mereka menikmati apa yang kami coba bawakan bersama mereka. Bahkan, beberapa kali di antara mereka mencoba membawakan satu lagu dengan terbata2, berusaha menyelesaikannya dengan senyuman. Ya, hari pertama saya di sana sungguh membawa arti yang besar pagi saya pribadi. Betapa "bahagia" bagi mereka itu sangat sederhana, dikunjungi orang lain, merasakan bahwa masih banyak yang mw berbagi bersama mereka. dan Sekali lagi saya diingatkan until bersyukur, tidak mengeluh, bersemangat dan selalu peduli.

Oke, balik lagi ke fokus awal. Hari itu, kami menjalankan program seperti biasa. Kami memgawali dengan bernyanyi bersama lagu 「みんな輝け」alias, we're all shining :D kemudian, kami lanjutkan dengan mmberi selamat ulang tahun pada pasien2 yang berulang tahun bulan itu.

Dan hari itu, kami diberitahu akan kedatangan satu pasien yang sebelumnya tidak pernah kelihatan. Kebetulan pasien ini berulang tahun pada bulan ini, segingga perawat meminta kami untuk memberi selamat ulang tahun juga padanya. Pasien ini bukan pasien yg tinggal di rumahsakit, karena dia dirawat sendiri oleh ibunya di rumah. Kebetulan, ibunya dan ia sedang kontrol hari itu.

Beberapa saat kemudian datanglah sang ibu dan anak ini. Lagi2, saya cukup terkejut. Tidak seperti pasien lain, yang ketika kami lakukan kontak mata sambil tersenyum lalu mereka berusaha memberikan senyuman balik, tapi yang saya temukan adalah wajah sesosok pejuang kuat yang terus bertahan.

Pasien ini adalah anak lakilaki berumur 7 tahun, seperti yang lain, mengalami kekurangan fisik dan mental, terpaksa tertidur di ranjang dengan alat2 kesehatan terpasang d tubuhnya. Satu lagi tambahn kondisi spesial, hanya memiliki satu paru2.

Ya, Saat itu, yang saya saksikan adalah ibunya mendorong ranjang si anak, satu tangan sambil memegangi pompa untuk memacu pernapasannya di saat2 dibutuhkan, tangan yang lain memegangi alat kontrol yang saya kurang tahu fungsinya entah untuk memonitor paru2 atau jantungnya.

Sang anak ini,-ijinkan saya memanggilnya sang pejuang ini, sedikit memangdangi kami, dengan terus berkonsentrasi menata nafas dengan mulutnya. Sedangkan sang ibu, sambil tersenyum menyanyikan lagu happy birthday, ia terus waspada dengan alat kontrol yang ia pegnag.

Maka saat itu juga hati saya luluh kembali. Sungguh adikku, ketimbang mengucapkan Happy birthday, saya lebih ingin mengucapkan Keep having Fight-day. Dengan kehendak Allah, Sudah 7 tahun lamanya kamu memenangkan hari2 untuk bertahan. it's just AWESOME!Subhanallah

Hati saya pun meleleh menyaksikan sang ibu. Sungguh, yang saya ingin katakan padanya hanyalah,
Perlu ibu tahu bahwa ibu adalah satu yang terpilih dari sekian ratusan juta ibu di dunia ini, karena Tuhan tahu dan saya pun percaya, bahwa
Ibu adalah KUAT!

Sang ibu tetap tersenyum, dan selesai kami bernyanyi bersama, dengan tersenyum ia berkata "arigatou gozaimasu"

Tidak, kamilah yang seharusnya mengatakan itu. Kami bukan apa2 dibandingkan ibu dan anak ibu. Kami lah yang harus belajar dari ibu dan anak ibu. Kamilah yang lagi2, merasa diingatkan dengan pertemuan ini. Kami yang suka lupa bahwa kami beruntung, kami yang suka tak tahu diri membiarkan semangat kami mengendur di saat anak ibu yang untuk bernapas pun butuh berjuang, dan masih banyak lagi yang lain.

Hari itu, saya seperti merasa di tampar halus olehNya. Bagaimana dengan mu kawan? Masih semngat? Masih bersyukur? Semoga 2 pertanyaan ini dapat terus menjadi pertanyaan rutin evaluasi kita di akhir hari2 kita.

#dengan kehendakNya, saya lagi2 diberikan pelajaran dan hikmah hari itu.
Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?!

Friday, 24 August 2012

Kami Berani Bermimpi

Assalamu'alaykum :D

Lama sekali rasanya tak jumpa dengan blog ini. Terakhir kali saya post tentang Morning Sick, bahkan saya tulis target2 menulis saya. Namun, tak ada post2 yang berkelanjutan setelah itu. Ironis sekali, haha. 
Baiklah, saya yang sedang dalam masa liburan ini tiba2 saja kangen menarikan jari2 ini untuk berbagi cerita. yosh paling tidak saya mulai dari hari ini.

Siang ini, tiba2 saya teringat perbincangan tadi mlam dengan sahabat saya, Sessy;

Sessy : iya jek, jadi kita s1 ini kan masih general, ilmunya masih coba2, nah gimana kalo kita lulus trus s2 dulu, kita gali ilmu yang lebih deep trus stelah lulus kita terjun deh ke masyarakat, jadi ilmu kita udah mantep gitu, bisa lebih bermanfaat

Jeki : enggak ses, kita ini kan s1 sekarang masih muda, kita bikin sibuk tuh diri kita dengan kegiatan, kita pupuk idealisme muda. Stelah itu, kita coba terjun ke masyarakat. Disitulah nanti kita akan belajar toleransi antara idealisme kita dan realita. setelah tahu realita, kita s2 dengan membawa pangalaman akan fenomena2 realita yang ada. kita kaji lebih jauh. trus balik lagi deh ke masyarakat.

Ini adalah malam kesekian yang kami habiskan dengan berbincang tentang topik ala kami. dari memperbincangkan topik sok keren seperti yakuza, pemerintahan soeharto, election US, hingga pada ujungnya kami selalu asik memperbincangkan mimpi, idealisme, value hidup, dan cita-cita. 

Akhir-akhir ini, kami sibuk membicarakan Indonesia Mengajar. Sibuk memikirkan kapan waktu terbaik untuk ikut Indonesia Mengajar tanpa berpikir ada sekian banyak pesaing di Indonesia yang mempunyai porsi peluang sama. Namun kau tahu, pada akhirnya, kami tak mempermasalahkan apakah kami mungkin diterima atau tidak, tapi bagaimana kami bisa berkontribusi bagi sekitar. Kebetulan saja, kali ini kami sedang dalam euforia kekaguman pada sebuah proyek bertitel Indonesia Mengajar. 

Yah, seperti orang bilang, kami seperti mahasiswa kebanyakan, asik hidup dalam idealismenya sendiri. Beginilah kami, menikmati masa muda dengan merajut mimpi. Masih sibuk berpikir, bagaimana memajukan negeri sendiri. Tak ada salahnya bukan, tak ada larangan dalam bermimpi. Tunggu saja nanti, bagaimana kami berjuang merealisasikan mimpi-mimpi kami. :D

#Kau tahu, berdiskusi dengan sahabat itu tidak ada bosannya, asiknya tak ada habisnya. 

Friday, 11 March 2011

Morning Sick

Good Morning!
It’s been long time I didn’t write anything. Oh my ghost, when will myself get a writing habit??!! I’m a little bit being under pressured since I found my self in an awful laziness… :((
These days I always wake up late, getting myself in dream land again after praying subuh. Then, finally I’ll be truly wake up at around 11. And what I wanna say is, Facebook, You are such an addictive enemy! Yah, I’m really addicted in what they say social network. It was really hard to get free from it as internet connection is being one facility in my dorm.
Then in the afternoon, I have saman dance practice for performance in some events. Oh, I’m really being helped of this activity, I can’t imagine if I don't have any practice, What will I do???? I’ll be immersed myself in Cyberworld, I guess.
In night, sometimes I have circle activity. If not, I spend few time with my friend to do our holiday study program. I hope this program is worked till the end of holiday.
I still have a lot of things to do in my holiday. I wanna have a superb progress of a lot of skills… Oh my God, If only I have grand spirit…
Ok, I’ll try to make a list of things to do :
1.    Studying Intermediate Japanese to have before-class preparation
2.    Studying English! Specially to elaborate vocabularies in writing. I was really really feeling unconfident with by writing
3.    Writing some articles
4.    Load of novels to read
5.    Finishing blog about halal food information in Beppu
6.    Find any part time job
7.    Etc…
Oh, I really need to collect my energy to against my sluggishness!!!

Saturday, 29 January 2011

Thanks Sensei :D

It’s getting freezing lately. I just feel crazy when every morning I see a couple decimal number in weather news.  But then I just amazed, wondering how perfect God creates my body, a humankind, can survive in a ranges of temperature. Though, I still need adaptation, man! (just typed this sentence while glancing at my dry-cracked skinned finger)
I did test today, though I still have 3 more next week. What I wanna say to my exam is : “thanks, you perfectly warmed my brain in this chill, lol”.
I got a nice experience this afternoon. It started when me and my friend decided to waiting for the exam time in BII building, in front of SALC (language center room) and also language teachers office in 1st floor. So, after we finished accounting class at 14.00, we did our plan. When we got there, I took a wudlu in bathroom since I need to pray dhuhr. Then, as usual, I walked to the place where I used to pray but I found people were practicing nihongo conversation there. Hmm, okay, it means I should find another space. Then I found that all the walled space were used for conversation practice.
My sensei was coming and friendly ask us,
S(ensei) : nani o shite iru no ? (what are u doing?)
My friend : hiru gohan o taberu sensei… (eating my lunch)
S : zakiya san wa? (and u, zakiya?)
Z : watashiwa, oinori o shitai, demo, doko ka wakannai (I want to pray but I don't know where I can do it)
S : Ahh..soo desu ka, asoko? Asoko? (ah, I see…how about there?)
Z : Hito ga iru… demo, daijoubu desu, watashi wa matte daijoubu (there were some people…but, it’s ok sensei, I can wait)
S : Ah, ii yo… kochi ii yo. (Ah, u can do it here- he brought me to the space behind sofa in the building’s lobby. He moved the sofa a little bit..)
Z : Koko daijoubu desu ka ? (is it ok?)
S : Mochiron yo (of course). Eee, shikaku ga aru? (do you have the rectangle things- it means sajada anw)
Z : Ah, arimasu. Arigatou sensei (I have it, thanks sensei)
Ah, alhamdulillah he understood me… :D
Well, before, he often told us what he knew about islam in front of class.  Among nihonjin I’ve know, he has better knowledge about islam. For common people, they might keeping their eyes on us, wondering what a strange series of movement we’ve done, or why we take off our shoes and wash our foot in wastafel. Thanks Senseiii…..
 
#btw, thanks Allah, I believe u sent your help through my sensei’s hand… And I believe u will make this matter easy when I still keep willing to do it . For having positive thinking of everything about you and your provision, I’ll always try..

Saturday, 15 January 2011

Having Future like them, can I??


In this chilly noon, I declare that I’ll keep up writing and sharing in such a routine once a year week as it was written in my this year resolution. (Oh God, don’t let me getting regret of making this resolution)

Anyway, today I wanna share about the last episode of my favorite Indonesian TV program, Kick Andy. This morning- just call it morning though in fact it was already late morning as my clock’s needle had almost pointed on double 1 number- I just woke up and as usual, got my hand touched my laptop spacebar to wake it up from his sleep. I checked my email, and 1 of numbers of my new email (I’d prefer to write it in this way-a numbers of new email- to make myself seems like an important person, than to be honest that it almost all spams, lol) is from my mother. “If you have time, watch Kick Andy,” she said. Okay, I was too lazy to start weekend with either doing my homework or study, so I follow my mom’s suggestion.

Then I went to the official website of Metro TV through the help of my lovely ojiisan, ‘google’. In short, I started watching the program. It is titled “getting success overseas”. Wow, they were such an amazing people. They’re stunning as well. They’re completely proved that Indonesian can make a great achievement. I was impressed that they had wonderful life journey, was brought up in a modest family (which their parent is farmer,vendor, etc), got continuous scholarship to study abroad till doctoral program, and lastly invented precious things to the world. Moreover, one of them, a 30-year-old girl, who got her doctor in the age of 28, failed in UMPTN (national selection to enter public university in Indonesia). I believed she had much hard work then she passed NUS selection.
Very WOW show!

~hmm, now wondering my future… Yossh…wake up jek, conduct your life in proper way!!Focus!

Beppu, Jan 15 2011, when the wind is perfectly blending snow outside, oh no