Pages

Tuesday, 28 December 2010

"I wanna be the best father for my child"

Hiyaa....lama sudah saya tak ngeblog dan nulis. Jadi malu sama kata2nya bang Tere, "menulis itu bukan masalah sempat tidak sempat, luang tak luang, ...." Allah, jangan jadikan jari-jari saya kaku ya...hehe :D


Oke, back to the focus. Penasaran baca judul di atas? Bisa tebak siapa yang melontarkan kalimat di atas? Seorang bapak yang sudah punya anak? bukan. Seorang suami yang mempersiapkan diri menjadi seorang bapak? Bukan juga. Bapak saya? Ini lebih ngaco lagi, ehehe (eh, bercanda be, babe mah top dah jadi bapak, hehe) 


Well, ini adalah ucapan seorang mahasiswa di kampus saya, a Japanese guy. Anw, saya denger pernyataan ini bukan dari dia secara langsung, tapi denger cerita dari senpai saya. Tapi, meski begitu, rasanya tetep saja ada rasa kagum saya untuk orang ini.


Kisah punya kisah, tahun lalu, dia memulai perjalanannya keliling dunia, having World Trip. Satu tahun dia cuti kuliah, menjelajahi dunia by himself. Ketika ditanya, untuk apa kamu melakukan world trip ini?
Jawabannya adalah... "I wanna see the world, I wanna learn everything, I wanna be the best father for my child"
Yap, aku ingin menjadi ayah yang baik untuk anakku, he said so. 


*so, what have u done so far to be the great parent for your child later on? :D 

Friday, 22 October 2010

It was the FIRST time....


Maaf sebelumnya, sebetulnya peristiwa ini terjadi sudah sekitar satu minggu yang lalu, tapi, berhubung saya tidak menyempatkan waktu untuk menulis kecuali menulis tugas esai saya, jadi, gomenne, baru nulis sekarang...hohho

Dan parahnya, sekarang saya lupa itu kejadian terjadi tanggal berapa, hehhe, but it’s not really important, seperti kata guru sejarah smp saya dulu, “kalian tidak perlu menghafal tanggal, itu tidak penting, yang penting kalian paham runtutan kisahnya”...jadi...let’s start my story :D

Sore itu, selesai kuliah jam 17.45, saya langsung ke student union, berhubung ada kegiatan club. Karena saya sedang tidak haid, maka saya pun ke toilet untuk wudhu, dan ambil rukuh plus sajadah, lalu ke lorong tempat sholat...

Sesampainya di lorong yang biasanya, ternyata sudah ada sesosok laki-laki (halah) sedang sholat. Wew, it was the first time saya menemukan barengan sholat di kampus setelah 3 minggu (as jadwal kuliah pada beda2, t4 sholat pun beda2, g kayak di indonesia yang di kampus kalo sholat ya di musholla atau masjid)

Kembali lagi ke cerita, karena lelaki itu udah sholat duluan, ya udah saya jadi ma’mum masbuk dengan isyarat menggelar sajadah (nggak mungkin kan saya nepuk pundaknya, hehhe).  Dia mengerti lalu mengeraskan bacaannya. Jadilah kami sholat berdua, hohho..

Setelah beberapa menit, selesailah kami sholat. Lalu, saya menyelesaikan sholat saya karena ketinggalan satu rakaat. Setelah saya selesai sholat, sementara saya berdoa, imam saya tadi itu sholat sunnah. Sayang sekali, karena saya ada agenda saya langsung cabut tanpa menunggu pria itu selesai sholat...

Well, saya tidak tahu siapa dia, bagaimana rupanya (bukan masalah enak dipandang atau tidak, hehhe, yaa, siapa tau bisa sapa2 gitu kalo ketemu di jalan), darimana dia, anak undergraduate atau graduate... Saya hanya melihat posturnya dari belakang, mendengar satu surat pendek untuk bacaan sholatnya, dan tasnya (yang sekarang saya sudah lupa, hehhe)

Hmm, sebenernya saya mw ketemu bukan karena apa-apa sih, cuma mw tanya satu pertanyaan aja
“Are you sure about your qibla direction???”
:D

Sunday, 26 September 2010

Yokoso Japan (2)

Setelah beberapa hari di sini, alhamdulillah I’m really enjoy it. Bertemu dengan teman2 yang punya beragam latar belakang memang mengasyikkan. Ah ya, saya mau sharing pengalaman baru saya dengan jilbab di sini.
Di kampus ini, orang2 sudah tidak asing dengan jilbab (a kind of head cover). Mereka biasanya mengidentikkan jilbab dengan orang Indonesia. Ya, karena biasanya emang yang pake jilbab itu orang Indonesia. Saya rasa, setiap taun pasti ada anak Indonesia yang pake jilbab yang masuk sini.

#1
Waktu : Evacuating Drill
T4 : di jalan pas mau ke t4 evacuating drill
Ceritanya, saya baru kenalan sama anak Nepal yang ternyata floormate saya. Terus, dia bilang gini sambil nunjuk jilbab,
“Is it from Indonesia?”
“No, some muslim woman wear this”
“aah, I see. In my country, the muslim woman look strict. They wear like this (body languagenya nutup muka, maksudnya pake niqab). But you know, when they open it, they are so beautiful”
“ah, ya ya, some other wear like that”
dalam hatiku, “wah, tau gitu pake cadar aja nih, biar dikira so beautiful, hohho”

#2
Waktu : mw ke kampus ada agenda orientasi
T4 : Lift dan pas jalan ke kampus
Saya baru di lift sama temen saya orang Indonesia. Terus, masuklah ke lift bersama kami cowok Jepang. Di lift, teman saya kenalan, saya masih betulin tali sepatu. Then, anak itu bilang gini, “You come from Indonesia?”
Temen saya jawab, “ya, how could you know?”
“A, because you wear that (sambil nunjuk saya)”
saya nimbrung deh, “aah, because of this? (saya nunjuk jilbab saya)”
dia bilang lagi, “Ya”

#3
Waktu : habis health check up
T4 : di bus
Selesai health checkup di klinik, kami naik bis yang udah disediakan APU untuk pulang ke kampus. Kebetulan, sebelah saya anak vietnam. Kami pun berkenalan. Pas kenalan itu dia tanya, “mm, you are, from pakistan?”
“oh, no no, I’m from Indonesia. You guess that because of this (saya tunjuk jilbab saya)”
“ah, ya”, jawab dia
batin saya, masak orang pakistan pesek begini. Look at me, I’m so javanese, hahha. 

#4
Waktu : hari sabtu, nonton dorama bareng sama anak2 floormate yang sama2 g ada gawean
T4 : kamar saya
Satu teman saya tanya, “By the way, how long is your hair”
“ah, just like she has (sambil saya tunjuk salah satu teman saya)”
“so, you shouldn’t take it off(menunjuk jilbab saya)?”
temen saya yang dari vietnam yang jawab, “ah, she shouldn’t show it to us. It is for her husband”
temen saya yang tadi tanya lagi, “really? Em, who can see your hair?”
saya jawab, “our family, our woman muslim/muslimah friend, and our husband. So, we hope that our husband is the first man who will see our hair”
“ah, nice” “so romantic”...komen temen2 saya
waaahh....jadi berbunga-bunga dengerin komennya mereka, ngomongnya aja udah merinding sendiri, hehhe.

Yeah, Proud to be muslimah :D


Japan, 25 Sep 2010

Yokoso JAPAN (1)


Wah, alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di japan. Setelah itu menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, dan sampailah kita di lingkungan kampus, di depan asrama. Masuk asrama, disambut oleh senpai, di kasih pengarahan2 di asrama, rulesnya, dst. Habis itu diajak muter kampus, makan di shokudo, kembali lagi ke asrama.
Sesi berikutnya adalah muter2 di dalem asrama, dibagi ke beberapa grup kecil. Setelah muter2 asrama, mulailah saya angkut barang2, mencari kamar saya sendiri. Pertama, masuklah saya ke lift di deket loby. Begitu masuk lift, saya heran, kok cuman sampai lantai 4? Padahal temen saya ada yang di lantai 5. Jangan2 salah nih. Tapi saya pencet aja angka 2 (karena di tulisannya saya memang dapetnya kamar di lantai2). O-o, begitu nyampe ternyata tidak ada kamar di lantai2. Yap, saya salah masuk lift. Alhasil saya masuk lift lagi, turun lagi.

Setelah itu saya menemukan lift di tempat yang lebih ke timur. Nah, ada pengalaman menarik di lift ini. Lift yang satu ini terletak di depan dapur lantai satu (yang setelah itu saya baru ngeh kalau itu adalah gedung untuk private room). Nah, pas saya masuk lift, di kitchen itu ada putra2 (halah, cowok2 maksude) yang facenya semacam bangladesh atau sri lanka, atau sejenisnya. Saya dorong koper saya masuk ke lift. Eh, 2 orang lelaki itu tiba2 melihat saya dan berseru, “Assalamu’alaykum!!” Bodohnya, saya malah bengong, “e?” (hohho :P, bukannya jawab salam)
Setelah beberapa detik saya baru ngeh, jawab salam “e, wa’alaykumussalam.” Trus salah satu dari mereka menghampiri saya “Are you muslim?”
“ah, ya,ya,” jawab saya
“where do you came from?”
“e, Indonesia”
“oo, do you need help?”
“no, no”

Setelah itu, saya sibuk dengan koper saya. Lupa nanya balik tentang mereka. Setelah sampai di lantai 2 building itu, saya cari kamar saya. Dan ternyata, tidak ada...
Alhamdulillah, saya ketemu anak vietnam. Saya tanya deh di mana sejatinya kamar saya berada. Akhirnya ditunjukin lah. Saya mesti turun lagi, kemudian jalan lewat lorong, baru naik lift yang ada di sana. Wah, alhamdulillah, nyampe kamar juga. Kemudian beres2 bentar, lalu melepas penat. Fiuh....

Japan, 25 Sep 2010

Yuk, Mari Melamar Panggilan Allah :)

Hmm, lagi-lagi saya mau berbagi cerita nyata. Semoga bermanfaat :). Cerita ini saya dapat dari ibu, tentang seorang temannya. Begini ceritanya :

“Allah, panggil hamba ke baitullah....,” lirih seorang anak kelas 5 SD dalam doanya selesai sholat. Lirihan itu terus ia ulang tak henti-henti setiap saat. Ia tahu, mungkin akan banyak temannya yang menertawainya jika mendengar doanya ini. “Masih kecil aja udah mau naik haji, emang udah punya duit?” mungkin saja selorohan2 tak percaya ini ia dengar. Namun ia tak peduli, ia yakin, Allah punya sejuta cara untuk memanggilnya pergi haji suatu saat nanti.

Beberapa tahun kemudian anak ini beranjak remaja. Ibunya ingin sekali pergi haji.  Sementara sang ayah telah meninggal sejak lama. Sang ibu bingung siapa yang akan menemaninya naik haji. Maka, beliau memberikan tawaran ini pada anak-anaknya.

Ternyata, semua anaknya berhalangan, tidak bisa menemani sang bunda karena berbagai agenda/pekerjaan, kecuali satu orang. Dia adalah anak laki-laki yang selalu berdoa meminta panggilan Allah sejak kacil. Kala itu, ia menduduki kelas 2 SMA. Akhirnya, berangkatlah sang bunda dengan anaknya yang masih remaja. Sungguh sebuah anugrah yang luar biasa bagi sang anak, kelas 2 SMA diberi kesempatan Allah pergi haji. Seakan ini adalah jawaban Allah atas doa yang senantiasa ia lantunkan.

Nah, teman, kisah sang anak tidak berhenti sampai di situ.

Beberapa tahun kemudian, budenya ingin sekali naik haji. Ah, sama dengan ibunya, bude ini menawarkan anak2nya barangkali ada yang mempunyai keluangan waktu untuk menemaninya naik haji. Namun, tidak ada satu pun anaknya yang bisa menemani ibunya naik haji. Kemudian, bude ini menawarkan kesempatan ini kepada keponakannya, anak adiknya yang sudah pernah haji. Ya, ialah anak tadi, yang beberapa tahun lalu memenuhi panggilan Allah bersama ibunya. Sekali lagi Allah menunjukkan jalannya, memanggilnya kembali ke baitullah.

*****
Jangan berdoa
“Allah berikan hamba rezeki yang banyak hingga aku bisa pergi haji”
tapi berdoalah
“Allah, panggil hamba ke baitullah....”

Kalimat di atas adalah kutipan nasehat dari seorang bapak yang sejak kelas 5 SD selalu berdoa memohon panggilan Allah, yang ketika kelas 2 SMA mendapat kesempatan naik haji bersama ibunya, yang beberapa tahun kemudian masih diberi kesempatan (lagi) naik haji bersama seorang kerabatnya. Ya, bapak itu adalah anak yang saya ceritakan di atas.

Poin yang saya tangkap dari cerita ini ialah Berdoalah, mintalah Allah memanggil kita, maka Allah punya sejuta cara, Allah punya cara yang terbaik, rencana yang hebat yang kadang di luar kemampuan nalar kita, sehingga kita bisa menunaikan rukun islam yang kelima ini (lepas dari itu, kita tetap harus berikhtiar dan tidak menyiakan kesempatan).

Ada satu hal lagi yang saya dapat dari ibu. Kata ibu, “Haji itu ibarat pekerjaan. Kamu baru bisa dipanggil perusahaan/instansi untuk bekerja kalau kamu sudah melamar pekerjaan itu. Sama seperti haji, kalau kamu mau dipanggil Allah, ya melamar dulu. Jadi masalahnya bukan sampai kapan kita menunggu panggilan Allah, tapi bagaimana kita melamar kepada Allah untuk dipanggil ke baitullah...”    

Hmm,,, jadii....YUK KITA MELAMAR PANGGILAN ALLAH :)

Jogja, 5 Sep 2010

Lebih dari sekedar sosok Arai wanita

Sore itu, saya mendapat cerita menarik tentang "someone" dari seorang teman. Buat saya, cerita ini suangat menginspirasi, i waww pokoknya. Oya, sebelum saya lanjutkan, perlu diingat bahwa cerita ini sama sekali tidak fiktif, bukan bualan, bukan dongeng, apalagi angan-angan belaka. Dikarenakan saya lupa bertanya pada teman saya siapa nama "someone" tersebut, maka saya pikir saya sebut saja Aisya, hehhe (setidaknya lebih mending lah daripada saya sebut Melati atau Mawar).

Tiga tahun yang lalu, Aisya adalah seorang pelajar kelas 3 smp yang sedang menunggu pengumuman kelulusan. Aisya, yang saat itu berdomisili di Pemalang, Jawa Tengah, suaanngggaaattt ingin melanjutkan studinya alias SMAnya di kota pelajar, Yogyakarta. Ia pernah mengungkapkan hal ini pada orang tuanya. Namun, mimpi "kecil"nya ini ditolak mentah-mentah orang tuanya. Orang tuanya ingin ia menempuh SMA cukup di daerahnya saja.

Hari penerimaan ijazah pun tiba. Saat orangtuanya hendak berangkat ke sekolahnya, Aisya pamit hendak ke rumah temannya. Kenyataannya, ia nekat pergi ke Jogja. Modalnya cuma satu, ia punya kakak sepupu yang sedang kuliah di Jogja. Sampai di Jogja, ia bertemu dengan kakak sepupunya. Ia ceritakan "mimpi kecil"nya untuk sekolah di Jogja. Tidak bermaksud menghalangi tekad bulat Aisya, sang kakak sepupu mencoba menjelaskan bahwa hidup sendiri di 'kota orang' tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dengan kondisi yang bisa dikatakan 'belum direstui' orang tua seperti Aisya. Dijelaskannya pula pada Aisya tentang apa-apa yang perlu disiapkan.

Setelah paham akan penjelasan dari kakak sepupunya, Aisya pulang ke rumah. Ia berniat mengambil surat-surat dan dokumen yang dibutuhkan, seperti Ijazah, rapot, akte, surat pindah, dkk. Sampai di rumah, Aisya mendapati kedua orang tuanya marah besar. Jelas, sore setelah kembali dari SMP Aisya, menyadari sang putri tak juga kembali, beliau berdua akhirnya tau bahwa Aisya nekat ke Jogja. Aisya sama sekali tidak diajak bicara oleh kedua orang tuanya. Seorang diri, Aisya mengurus surat-surat yang diperlukannya untuk merantau ke Jogja. Ya, tekadnya tak pernah surut.

Begitu semuanya siap, sekali lagi Aisya mengutarakan maksudnya untuk sekolah di Jogja. Lagi-lagi orang tuanya belum mendukung. Menentang lebih keras, ultimatum pada Aisya pun dilontarkan. Jika sekolah di Jogja, Aisya tidak akan diberi uang saku, uang hidup, tidak dicarikan tempat tinggal,... (pokoknya semacam diusir dari rumah, semua dari a sampai z harus mengurus sendiri). Pada akhirnya, Aisya tetap pergi ke Jogja seorang diri.
Sampai di Jogja untuk kedua kalinya, Aisya kembali menemui kakak sepupunya. Ia meminta bantuan kakak sepupunya untuk mengurus pendaftaran SMA dan untuk hidup sementara. Awalnya, ia hendak mendaftar di sebuah SMA negri favorit di Jogja. Mungkin karena kurang paham dengan sistem penerimaan siswa baru di Jogja, (Ia menjelaskan bahwa ia tidak jadi mendaftar karena masalah kuota siswa dari luar kota yang sudah penuh di sekolah tersebut, padahal sebenarnya asalkan nilai mencukupi nggak masalah, toh sistemnya gusur-gusuran), Aisya akhirnya mendaftar dan diterima di sebuah Madrasah Negri (hmm.. tapi menurut saya, sekolah ini pun cukup bagus).

Urusan daftar SMA selesai, permasalahan baru muncul. Ia tidak mungkin menggantungkan diri terus-terusan pada kakak sepupunya. Kemudian, ia iseng ikut lomba menulis yang diadakan FLP. Sungguh, Allah Maha Pemurah, ia diizinkan-Nya memenangkan kompetisi bergengsi tersebut. Hadiah lomba itu pun ia jadikan modal awal untuk hidup di Jogja.

Tidak cukup sampai di situ, sadar bahwa ia masih butuh uang untuk biaya hidup ke depan (jangka panjang-red), Aisya memutar otak untuk bisa mempunyai penghasilan. Sebuah usaha kecil pun ia rintis. Menjadi agen penghubung les privat. Kayak apa itu? Sederhananya begini : yang merasa kesulitan memahami pelajaran, yang pengen les privat, hubungi Aisya. Yang mau menawarkan jasa mem-privati, juga hubungi Aisya. Nanti, Aisya lah yang menghubungkan kedua pihak tersebut. Semua diuntungkan, buat pihak 1(yang mau les), nggak usah susah-susah cari guru privat, sedangkan untuk pihak 2(guru les), nggak usah susah-susah cari murid. Jadi, tugas Aisya adalah, membuat koneksi sebanyak-banyaknya ke siapa-siapa yang mau jadi guru privat dan mempromosikannya kepada yang mau les privat. Nah, penghasilan Aisya didapat dari "bagi hasil" pendapatan guru privat tersebut, tentunya dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Eitt,,belum selesai. Belum lama ini ternyata Aisya pun merambah ke ranah bisnis yang lain. Ide bisnis yang ini menuntut Aisya untuk peka terhadap potensi daerah. Ia tahu betul di daerahnya, di Pemalang, kemiri begitu melimpah sampai dibuang-buang (bahasa jawanya : turah-turah). Padahal di Jogja, kemiri termasuk kategori tidak mudah didapat (yaa, nggak melimpah gitu). Sebaliknya, di Jogja, garam beriodium sudah sangat lumrah, mungkin hampir semua garam beriodium. Tetapi, di Pemalang, garam beriodium suangat langka. Maka, Aisya berinisiatif membarterkan kedua barang tersebut. Untuk modal awal, ia meminjam uang di Bank (jelas, ini bukan bisnis kecil, BISNIS BESAR bung!). Dan lagi, jumlah yang ia pinjam pun nggak tanggung-tanggung, 35 JUTA RUPIAH !!!! (Ohh,, sampai mendengar bagian ini dari teman saya,saya heran surprise kaget kagum luar biasa. Batin saya, "ini anak SMA nekat, berani, atau apa??gilee,,ckckckk" ). Di akhir ceritanya (kata temen saya), Aisya masih sempat menjelaskan hal yang lebih LUAR BIASA --katanya, "Alhamdulillah, sekarang hutang di Bank udah lunas. Saya juga sudah bisa ngontrak rumah sendiri, menghidupi diri sendiri". Saya jelaskan lebih lanjut hal yang lebih mencengangkan. HUTANG 35 JUTA TERSEBUT LUNAS HANYA DALAM WAKTU 2 BULAN. See, dua bulan balik modal apa nggak hebat tuh? Wuahh, Subhanallah deh ndengerin cerita ini sore itu.

Oya, saya hampir lupa, bagaimana kelanjutan kisah Aisya dengan orangtuanya? Aisya pun bercerita, "Alhamdulillah sekarang orang tuaku sudah bisa senyum untukku" (Di bagian ini teman saya menambahkan suara batinnya waktu mendengarkan cerita Aisya, "Ya iyalah! Orang tua mana yang nggak bangga anaknya bisa kayak gitu?")
Subhanallah, betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, mempunyai skenario hebat untuk setiap hambaNya, yang muncul di balik keoptimisan, usaha keras, perjuangan, dan tentunya keyakinan dan keberserahan padaNya.
*note untuk Aisya (siapa tau ternyata anda juga MP-ers, atau sewaktu-waktu sedang googling atau browsing kemudian baca tulisan saya ini) : saya yakin anda bisa jadi muslimah enterpreneur hebat! Lanjutkan!! hehhe :P, dan ajari saya. Oya, mohon maaf kalau saya sedikit sewenang-wenang memberi nama Aisya untuk anda, saya harap anda senang dan tidak keberatan dengan nama itu.     

Jogja, 30 Des 2009  

Alkemis

saya posting uraian kata2 bagus dari buku The Alchemist ini....
apikapikapik...
"Dengarkan suara hatimu. Hatimu tahu segalanya, sebab hatimu berasal dari Jiwa Dunia, dan suatu hari nanti akan kembali ke sana"
"Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?"
"Karena di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada"
"Tetapi hatiku gelisah, hatiku menyimpan mimpi-mimpi, menjadi emosional, dan mendambakan seorang wanita gurun.
Hatiku meminta banyak hal, dan membuatku tak bisa tidur bermalam-malam saat aku memikirkan wanita itu"

"Kalau begitu, baguslah. Berarti hatimu hidup. Jangan berhenti mendengarkan suaranya"
"Hatiku pengkhianat. Hatiku tak ingin aku jalan terus"
"Masuk akal. Wajar saja kalau hatimu takut kau kehilangan segala yang telah kau miliki dalam usaha meraih mimpimu ini"
"Kalau begitu, buat apa aku mendengarkan suara hatiku?"
"Sebab kau tidak akan pernah bisa menyuruhnya diam. Kalaupun kau pura-pura menulikan tenaga terhadapnya. Dia akan selalu bersuara di dalam dirimu, mengulangi pikiranmu tentang kehidupanmu dan dunia ini"
"Maksudmu aku harus terus mendengarkan, andaipun dia berkhianat?"
"Pengkhianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. 
Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginannya, dan kau akan tahu juga cara menyikapinya. 
Kau takkan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi sebaiknya dengarkanlah suaranya. 
Dengan begitu, kau tidak perlu takut mendapatkan pukulan yang tak disangka-sangka"
"Hatiku takut menderita"
"Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. 
Dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan 
pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian"
"Yang masih perlu kau ketahui adalah: sebelum mimpi bisa terwujud, Jiwa Dunia menguji segala sesuatu yang telah kita pelajari 
sepanjang jalan. bukan karena dia jahat, melainkan agar selain mewujudkan mimpi kita,
kita juga menguasai pelajaran yang kita peroleh dalam proses mewujudkan impian tersebut. 
Dan di titik inilah orang biasanya menyerah"
"Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan pemula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang"
Saat-saat paling gelap di malam hari adalah saat menjelang fajar...


Jogja, 2 Apr 2009

Filosofi Pemimpin : HASTA BRATA

Sebuah Filosofi Jawa tentang pemimpin (dari buku Samita, karya Tasaro GK) :

HASTA BRATA
Pemimpin itu harus seperti :

surya(matahari),
memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun negrinya

candra(bulan),
memancarkan sinar di tengah gelap malam. Mampu memberi semangat pada rakyatnya di tengah suasana suka maupun duka

kartika(bintang),
memancarkan sinar kemilauan, berada di tempat tinggi sehingga dapat menjadi pedoman arah. Menjadi teladan perbuatan yang baik

berhati angkasa,
luas tak terbatas. Mampu menampung apa saja yang datang padanya. Punya ketulusan batin dan mampu mengendalikan diri, menampung pendapat rrakyatnya

berjiwa maruta(angin),
mengisi semua ruang yang kosong. Dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya

bersemangat samudra,
betapa pun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Bersifat kasih sayang pada rakyatnya.

bersifat dahana(api).
punya kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Berwibawa dan berani menegakkan kebenaran sevara tegas tanpa pandang bulu.

berhati nurani bhumi,
kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil pada yang merawatnya. Bermurah dan tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya

Kenapa kalian Bertiga?

tiga bersamaku
nurani, ego, dan mimpi

sunyikah?
kukunci rapat suara mereka selama ini
sengaja, belum siap kataku
tapi itu dulu,
yang kalian dengar itu sudah basi

satu hembusan hangat angin musim telah berlalu

sunyikah?
kini aku menggeram
tidak ketika ia mendentumkan tanda dimulai
tidak ketika ia mengadu pada ketiganya
dan deru perselisihan menjerit tertelan sekam
baru kemarin

jarum di sana masih memberiku peluang
belum letih berdetak untukku
ia rela menunggu
setidaknya untuk 12 purnama yang akan datang

bulan belum melingkar malam ini
menyaksikan pertengkaran semu mereka
nurani, ego, mimpi

takkan kubiarkan hatiku meletup, meledak, memecahruah
meramaikan gelap ini
setidaknya untuk malam ini

entah esok
mungkin kalian mencibirku karena jeritanku
"enyahlah kalian bertiga, aku lelah"
atau aku masih akan menelan mereka bulat-bulat



Jogja, 13 Maret 2009

renungan pagi

Kira-kira 2 hari yang lalu,,pagi-pagi diceritain ibu tentang kick andy yang baru saja malam itu beliau tonton....

Ibu bercerita tentang kisah 3 orang yang dihadirkan malam itu oleh tim kick andy

pertama:
seorang pria dengan kaki cacat tinggal di daerah perkebunan teh. Dengan ijazah lulus SMK, ia bekerja sebagai tukang parkir. suatu hari, tergerak hatinya melihat anak2 di daerah tempat tinggalnya hanya memiliki sedikit motivasi untuk belajar. kemudian, ia mencoba mendirikan sekolah kecil di rumahnya. atau lebih tepatnya di sebuah kandang sapi. Ia mencoba membagi ilmunya kepada anak-anak itu. Dari kelas satu sd sampai enam sd, hanya dirinyna seorang yang menjadi guru. Pekerjaanya menjadi tukang parkir tidak ia tinggalkan. Ya,ia 'hanya' menambah rutinitas hidupnya dengan menjadi seorang guru...

Hingga suatu hari, ada seseorang yang parkir di tempatnya bekerja iseng bertanya tentang rutinitas lain apa yang ia jalani selain menjadi tukang parkir. Dari mulutnya pun mengalir cerita sederhana. Tak diduga, setelah orang itu melihat kondisi sekolah yang ia dirikan, orang tersebut membantu membangung gedung yang lebih layak.

Kini, sekolahnya masih berjalan...dengan ia masih sebagai guru. Hanya saja kini ia ditemani oleh beberapa guru lain....

kedua :
di lingkungan yang bermunculan bibit2 TKI dan TKW, hadir seorang wanita yang putus sekolah ketika ia masih di bangku kelas 5 sd. ketika itu ayahnya meninggal dunia. Ia sebagai anak sulung yang dijadikan tulang punggung keluarga mengalah tidak melanjutkan sekolahnya demi adik2nya. 

Kini, adiknya sudah dewasa, sudah saatnya sang adik itu tidak lagi menjadi beban hidupnya. Kemudian, ia miris melihat anak2 kecil di lingkungan tempat tinggalnya tidak terurus. wajar bila hal ini ditemui di linkg daerah asal TKI-TKW. kemudian, ia mencoba mengumpulkan 
anak2 itu dalam suatu "diniyah"
ia membuat sekolah agama pada sore hari untuk mendidik anak-anak tsb. Sederhana, di rumahnya yang tidak seberapa luas. Suatu saat, seorang rekannya yang menjadi TKW yang cukup sukses mengetahui upayanya. Kemudian rekannya ini mengirimkan sejumlah uang untuk donasi supaya sekolahnya berkembang.....semuanya berlanjut......

Hingga kini,, sekolahnya berdiri dengan gedung yang cukup besar...
Dibangun sebuah asrama untuk menampung kurang lebih 70 anak yatim piatu yang juga sekolah gratis SPP.

Aku terharu ketika ibu mengulang ucapannya,
"Dulu saya bermimpi ingin menjadi kaya supaya mampu menyekolahkan anak Indonesia,
Tapi alhamdulillah sekarang, saya belum kaya, saya bisa menyekolahkan anak Indonesia"

subhanallah...........

ketiga:
seorang guru yang kisahnya  persis dengan kisah bu Muslimah(Laskar Pelangi)
Andy bilang, "Jangan kira kondisi sekolah yang seperti di Laskar Pelangi itu hanya ada pada puluhan tahun yang lalu. Sekarang, di Indonesia, masih ada sekolah yang kondisinya sama..."

hikshiks...cerita ini membuatku terharu...
kata ibu, "Aku nangis semaleman lo nduk,,"
kataku, "Lha ngapa bu?"
kata ibu, "Malu ngaca, melihat bahwa apa yang kulakukan belum ada apa-apanya..."

ya, tidak pantas rasanya diri ini mengeluh, merasa lelah
bersyukur bagi kita yang masih dikasih fasilitas, dikasih nikmat yang buanyaaaaaakkkk........banget
yang jelas habis diceritain ini,,aku mendapat sentilan dan motivasi...
"Ayo lakukan sesuatuuuu untuk wujud syukurmu!!!!!!!!!!"
seruan ini terngiang....



Jogja, 9 Feb 2009

leader?

saya cukup tercengang melihat siaran berita sore itu. Mengapa? Akan saya jelaskan singkat menurut 
bahasa saya saja ya, bukan bahasa si pembaca berita :
"seorang bupati turun ke lapangan sepakbola di mana tim dari kebupatennya bertanding melawan
kabupaten lain. Ada apakah gerangan?
Rupanya bapak bupati tidak terima dengan perlakuan wasit terhadap timnya, Ia pun berlari mengejar si
wasit dan sampai berusaha melabraknya"

si Bapak Bupati tersebut turun ke lapangan dengan mengenakan pakaian dinas hitam-hitamnya.
Wow, jelas-jelas di sini beliau menempatkan diri sebagai bupati.(nonton sepak bola tu termasuk
perjalanan dinas ya? saya baru tau). Yang saya pikirkan di sini, sedang di manakah kebijaksanaan
dan kedewasaan si bapak? Maaf Pak, tidakkah bapak terlalu terpancing emosi? 

iseng-iseng, saya membayangkan kejadian yang relatif sama, begini ceritanya :
kejadian ini terjadi di negara yang sedang berkembang. Dapat diakui, belum semua penduduk
berpendidikan tinggi, dan masih ada kejadian kriminal terjadi, serta beberapa warga masih carut-marut
kehidupannya. Akan tetapi, perubahan positif secara pasti mulai terjadi seiring dengan perilaku pemimpinnya
yang bisa dijadikan teladan dan sebenar-benarnya pengayom masyarakat.

Alkisah, sore itu seorang bupati berpakaian sederhana, kaos dan celana seadanya, sedang berada
di tengah-tengah kursi penonton lap sepakbola. Dilihat sekilas, ia tak beda dengan penonton lain, 
yang membedakan adalah wajahnya yang lebih sering muncul dalam surat kabar bersamaan dengan
kebijakan-kebijakan baru yang ia putuskan.

Empat puluh lima menit berlalu,   
Stadion masih ayem-ayem saja...Cukup riuh memang para supporter berteriak,tapi itu semua masih dalam 
batas wajar...

Enam puluh menit kemudian,
sang wasit mengeluarkan kartu merah pada salah satu tim.
Supporter tim tersebut tidak menerima hal itu. Botol-botol mulai berterbangan, ya, emosi penonton tak terkendali.

Apa yang dilakukan sang bupati tadi?
bertindak sebagai pemimpin, pemberi contoh bagi yang dipimpinnya, bergerak menjadi penengah
mengomando semuanya supaya tenang, kemudian memberi pengertian...
dengan segala kewibawaannya ia mampu mengatasi itu semua,

pertandingan di mulai lagi,
tanpa ada berita ricuh yang perlu disiarkan di mana-mana...

ehem,masalahnya sama, tapi kelanjutannya beda kan? 
Karena satu hal, bapak bupati bergerak dengan tujuan dan cara yang berbeda.
Cara menyikapi masalah ini lah yang perlu dicermati...

Ah, rindunya akan pemimpin dewasa nan penuh wibawa...

Oiya, tulisan ini tidak dibuat menggunakan majas sinekdoke pars prototo, artinya, saya percaya masih banyak
pemimpin di luar sana yang memenuhi kapasitasnya sebagai pemimpin, yang amanah dan mengayomi rakyat dengan
kebijaksanaan dan kedewasaannya.

salah satu sosok pemimpin yang saya kagumi setelah Rasulullah SAW adalah Ahmadinejad.
Saya cuplik sedikit tentang gambaran Ahmadinejad dari e-mail yang saya dapatkan ya..
  
1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan 
Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu 
kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, 
lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler 
untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive. 

3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya 
dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, 
arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana 
dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, 
sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak. 

5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, 
sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. 
Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya. 

6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. 
Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, 
belum lagi secara minyak dan pertahanan. 
Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; 
roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, 
ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden. 

9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, 
ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, 
ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan, 
dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. 
Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, 
atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar 
karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. 
Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi. 
Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut,
kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.

12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka 

13. Bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa 



Jogja, 19 Des 2008